Mencari Sebuah Pengakuan

http://s.bundesliga.com/assets/img/1140000/1131605_imgw750.jpg

“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari,” Perumpaan klasik yang telah menghiasi dunia pendidikan selama bertahun-tahun. Pada dasarnya, pribahasa ini menuntut para murid untuk jadi lebih hebat dari pengajar mereka, dan tak jarang hal tersebut terjadi.

Dunia fiksi sekalipun mengadopsi filosofi yang sama, lihat saja Naruto menjadi Hokage meski diajar oleh dua guru mesum, Jiraiya dan Kakashi, atau Kenshin Himura yang pada akhirnya mewarisi jurus terakhir Hiten-Mitsurugi Amakekeru Ryu no Hikameki dari Hiko Seijuro setelah menempuh jalan terjal di hidupnya.

Ungkapan itu seakan-akan memberi isyarat bahwa seorang murid belum bisa dikatakan behasil jika mereka belum mampu mengalahkan gurunya.

Masih dalam suasana Hari Pendidikan yang jatuh 2 Mei, tema ini akan diangkat di divisi sepak bola tertinggi Jerman, 1.Bundesliga, dengan laga Borussia Dortmund melawan TSG Hoffenheim, akhir pekan nanti.

Pasalnya, nahkoda Hoffenheim, Julian Nagelsmann bisa dikatakan sebagai murid dari pelatih Dortmund, Thomas Tuchel, di FC Augsburg. Seusai juru taktik berusia 29 tahun itu selesai menempuh pendidikan sains olahraganya, Ia menolong Tuchel di tim muda Augsburg.

Saat itu, Nagelsmann sudah harus pensiun karena mengalami cedera lutut, dan dirinya memilih untuk melanjutkan karir di dunia sepak bola sebagai staff klub terakhirnya, FC Augsburg II, yang tengah dilatih Tuchel.

Meski hanya sesaat, ini adalah indikasi bahwa Tuchel adalah guru pertama Nagelsmann sepanjang karir kepelatihannya yang masih hijau.

Belum semusim bersama, Nagelsmann cabut ke mantan klubnya, TSV 1860 Munich II jadi asisten pelatih. Lalu Tuchel hengkang ke Mainz 05, dan untuk pertama kalinya Ia melanjutkan kerja Juergen Klopp setelah sempat menangani tim muda Karnevalsveiren.

Bersama Tuchel, Mainz berhasil lolos ke UEFA Europa League seusai mengakhiri musim di posisi tertinggi mereka sepanjang sejarah, peringkat lima 1.Bundesliga. Keberhasilan itulah yang  membuat sosok yang kini digadang jadi penerus Arsene Wenger di Arsenal, menarik minat Borussia Dortmund.

Bersama Der BVB, Tuchel menggunakan fondasi yang telah dibangun Klopp, memberi sebuah modifikasi pada gegenpressing menjadi juego de posicion. Juego de posicion ini disebut oleh Josep Guardiola dalam buku biografinya untuk menjelaskan gaya Tuchel.

Formasi 4-2-3-1 diubah menjadi 4-1-4-1 dengan mengandalkan posisi asimetri di tengah, pola ini sebenarnya sudah mulai Ia terapkan semenjak di Mainz. Pola ini mengandalkan gegenpressing ala Jerman, dengan lebih tenang dan menjaga bola-bola liar yang sering kali dilupakan klub-klub Bundesliga lainnya.

Juego de posicion mengedepankan struktur posisi pemain yang berorientasi kepada bola, dengan pola-pola, gerakan-gerakan, konsep-konsep yang spesifik dan memanfaatkannya ruang terbuka, untuk mengembangkan permainan serta mencuri tempat gerak lawan.

Hal ini nantinya akan menciptakan peluang-peluang emas atau memaksa lawan untuk mundur, sembari mempertahankan penguasaan bola.

Dengan jarak pemain lawan kian dekat dengan gawang mereka, maka presentase untuk terciptanya sebuah gol kian besar.

Tidak heran jika kemudian Tuchel digadang-gadangkan sebagai pelatih Jerman terbaik, jauh sebelum Guardiola berpetualang ke Bavaria. Tuchel bahkan sempat diyakini tinggal menunggu waktu untuk menangani Jerman.

Sayang, dengan bertumpuk ekspektasi di pundak, Thomas Tuchel terlihat terbebani.
Pada musim pertamanya, Ia lolos ke babak perempat-final Liga Europa, dan menjadi juara dua liga Jerman dan kalah di final Piala DFB dari Bayern, tidak bisa terulang di musim berikutnya.

Kini tanpa Mats Hummels dan Ilkay Gundogan, Dortmund terasa limbung. Padahal BVB memboyong nama-nama potensial seperti Ousmane Dembele, Emre Mor, dan digabung dengan pemain-pemain berpengalaman, layaknya, Mario Gotze serta Schurrle. Tapi kini mereka masih terpaut jauh, 16 poin dari Dei Roten.

Sedangkan di Liga Champions BVB dihajar tim yang berisikan pemain-pemain muda, AS Monaco. Satu-satunya pelipur lara mungkin hanya DFB Pokal, setelah mengalahkan rival utama, Bayern Muenchen, Dortmund tinggal satu langkah lagi memenangkan turnamen domestik itu jika bisa menekuk Eintract Frankfurt di final.

Keraguan pada Tuchel mulai muncul, dan ditambah dengan negosiasi kontrak yang alot, Dortmund dikabarkan tengah mengincar Julian Nagelsmann sebagai penggantinya.

Namun, nama Julian Nagelsmann yang tidak bisa jauh dari Tuchel, bukanlah sosok yang suka meneruskan warisan sesorang. Sama seperti saat Ia meninggalkan Thomas Tuchel di Augsburg II, pelatih 29 tahun itu juga pernah menampik permintaan Bayern agar bisa membuat sejarah dengan namanya sendiri.

Dia digoda untuk merapat ke Bayern Muenchen untuk menjadi pelatih tim U-23, dengan harapan bisa membawa beban tanggung jawab di FC Hollywood suatu saat nanti.

Bahkan kabarnya Karl-Heinz Rummenigge dan direktur olahraga kala itu, Matthias Sammer, pernah menyambut secara pribadi Nagelsmann di Sabener Strasse. Bahkan, Pep Guardiola juga turut hadir, memberi sedikit kata-kata dan tepukan di punggung Naglesmann.

Akan tetapi Julian Naglesmann lebih memililh bertahan TSG Hoffenheim, dan terbukti, dia akhirnya ditunjuk sebagai pelatih kepala, meskipun dengan tanda tanya besar serta keraguan di benak publik karena masih terbilang hijau, baru berusia 28 tahun.

Media asal Jerman, Rhein-Neckar-Zeitung menilai penunjukkan Naglesmann hanya sebatas mencari sensasi semata. Sedangkan Frankfurter Rundschau menganggap keputusan klub berjuluk Die Kraichgauer itu sebagai ide penuh halusinasi ala obat-obatan terlarang.

Sindiran-sindiran tersebut Ia jawab dengan membawa TSG Hoffenheim menghindari degradasi. Klub yang semula duduk di peringkat ke-17 karena kinerja Markus Gisdol yang gagal diperbaikI Huub Stevens, berhasil bertengger di posisi delapan klasemen ketika musim berakhir.

Bukan hanya itu, Ia juga mampu meraih 39 poin dari 22 laga hingga Oktober tahun lalu, yang hanya bisa dilampaui Dortmund dan Bayern. Bahkan hingga Januari tahun ini, TSG Hoffenheim jadi satu-satunya klub yang tidak terkalahkan di lima liga top Eropa, sampai akhirnya takluk dari RasenBallsport Leipzig.

Melihat hal ini, Majalah Kicker langsung memberikan sanjungan, dan menulis: “Adanya tanda UEFA Champions di udara,” pada bulan itu.

Terbukti, kini Hoffenheim sudah dipastikan lolos ke UEFA Champions League, minimal via play-off. Sebuah sejarah bagi klub yang disokong oleh perusahaan perangkat lunak milik mantan pemain mereka, Dietmar Hopp.

Kesuksesan Nagelsmann tidak lepas dari Tuchel, Ia bahkan memiliki pegangan serupa dengan pelatih Borussia Dortmund itu dengan mengutamakan fleksibilitas dalam taktik.

Naglesmann kerap mengubah taktik di tiap pertandingan, sehingga para penonton tidak merasa bosan. Bedanya, Tuchel dianggap kesulitan untuk menemukan konsistensi dari rotasi yang diterapkan karena faktor cedera dan juga formasi serta pilihan pemain.

Sementara Nagelsmann berhasil mengakali rotasinya dengan pendekatan psikologis ke tiap pemain yang ada di timnya.

“Kuncinya ialah dengan memperlakukan para pemain cadangan seperti pemain-pemain lainnya,” ujar Naglesmann pada awal musim pada Sky Sports.

“Filosofi saya adalah untuk menyerang lawan di dekat area gawang mereka, karena jarak Anda untuk terciptanya sebuah gol tidak jauh, andai kita mampu bawa bola ke atas,” Katanya pada Football Report pada 2013.

“Saya menyukai permainan Villarreal CF dan mereka mempunyai cara yang hebat untuk melatih pemain muda. Saya juga menyukai FC Barcelona dan Arsenal, sebagaimana saya menyukai hasil kerja Arsene Wenger.”

“Mereka bermain sepak bola yang sangat bagus. Saya rasa gaya permainan Spanyol hampir mirip dengan gaya filosofi saya dan di Spanyol mereka sangat bagus dalam melatih pemain-pemain muda untuk tim.

“Saya belum melihat banyak hal itu dari Villarreal tapi sangat menarik untuk memperhatikan bagaimana mereka berlatih dan itu bagus untuk pemain muda.”

Dengan kata lain, Nagelsmann menerapkan Juego de Posicion dengan tambahan edukasi, penerapan program-program untuk membedakan antara kepelatihan kolektif dan man-management.

“Anda harus memikirkan solusi dari perbedaan program-program sepak bola dan bertanding melawan tim-tim yang berbeda. Hal lainnya yang menarik ialah untuk memiliki 22 atau 23 pemain yang semuanya berbeda, secara individu, dan sebagai pelatih Anda harus membawa mereka ke satu tujuan.”

“30% kepelatihan adalah taktik, sisanya ialah kompetensi sosial.”

“Setiap pemain termotivasi oleh hal-hal yang berbeda dan harus diakomodir dengan baik. Jika itu terjadi, kualitas pemain di tim dipastikan membaik dengan perencanaan taktik yang bagus, jika kondisi psikologinya tepat,” Tuturnya pada Suddeutsche Zeitung, Agustus 2016.

Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan Thomas Tuchel, Julian Nagelsmann lebih mengakui pelatih RB Leipzig, Ralf Ragnick, sebagai inspirasi utamanya.

“Leipzig mengalami perkembangan yang menarik di divisi dua. Pada awalnya mereka hampir memprovokasi situasi di mana tim Ragnick kehilangan bola, dengan tujuan memenangkannya kembali di situasi-situasi berbahaya.”

“Tapi banyak lawan bermain terlalu dalam, sehingga tak ada kesempatan untuk melakukannya,” Ujarnya, seperti dikutip dari Spox.

“Saya memberikan perhatian dalam sikap para pemain kami ketika kehilangan bola tapi kita tidak akan pernah menginginkan hal itu terjadi. Sekarang Anda butuh kedua hal itu, solusi ketika menguasai bola, sebagaimana kala kehilangan,” Jelasnya.

TSG Hoffenheim sudah dipastikan lolos ke UEFA Champions League musim depan, tapi Nagelsmaan masih memiliki pekerjaan rumah yang belum Ia selesaikan sejak pertama kali bertemu Tuchel.

Ia belum pernah menang melawan mantan atasannya itu dengan satu hasil imbang dan sebuah kekalahan menghiasi rekor pertemuan. Sehingga menang menjadi wajib baginya di laga Sabtu, 6 Mei 2017.

Menang, dan Nagelsmann akan mendapatkan hal yang lebih besar dari pengakuan, Ia bisa menjegal BVB yang berharap untuk lolos otomatis ke UEFA Champions League.

Serta berpeluang melompati Ralf Ragnick, di akhir musim. Sosok insiprasi Nagelsmann yang kini menjadi direktur olahraga tim peringkat dua, RB Leipzig, hanya terpaut lima poin dari TSG Hoffenheim dengan tiga pertandingan tersisa.

Bisakah Nagelsmann kencing berlari ?

Iklan

2 Comments

  1. Paragraf 1 terlebih paragraf kedua terkesan aneh/absurd utk sebuah artikel sepakbola. Bhs kasarnya Lebay.
    Terlebih dari itu semuanya bagus. Makasih infonya. 👍👍👍

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s